IKHLAS
!$tBur (#ÿrâÉDé& wÎ) (#rßç6÷èuÏ9 ©!$# tûüÅÁÎ=øèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJÉ)ãur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãur no4qx.¨9$# 4 y7Ï9ºsur ß`Ï ÏpyJÍhs)ø9$# ÇÎÈ Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah SWT dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (Q.S.Al-Bayyinah:5)
[1595] Lurus berarti jauh dari
syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ
إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya
Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan
tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.
Secara
bahasa kata ikhlas berasal dari bahasa Arab: (خَلَصَ) yang artinya murni, tiada bercampur, bersih,
jernih
Dalam
konteks amal ibadah, orang ikhlas (mukhlis) adalah orang yang beramal karena
Allah semata, menghindari pujian dan perhatian makhluk, dan membersihkan amal
dari setiap yang mencemarkannya
Adapun
Imam al-Ghazali menegaskan, ikhlas adalah sidqun
niyyah fil 'amal, yaitu niat yang benar ketika melaksanakan
suatu pekerjaan. Dengan kata lain, setiap amal soleh dan kebajikan yang ingin
dilakukan semestinya berorientasi karena Allah.
Sebagaimana di awal surah Al-Mulk
ayat ke-2 Allah berfirman:
Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3r& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âÍyèø9$# âqàÿtóø9$# ÇËÈ
Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Imam Al Fudhail bin
‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,
لِيَبْلُوَكُمْ
أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), beliau
mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki
ajaran Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam).”
IKHLAS adalah bentuk ibadah yang hanya bisa
dilakukan oleh hati dan tidak bisa terlihat. Ikhlas dalah perbuatan shaleh yang
semata-mata untuk mendapatkan keridhoan Allah dan bukan untuk mendapatkan
pujian.
Pamer (Riya) adalah salah satu tanda
utama hilangnya keihkhlasan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Yang paling kutakutkan untukmu adalah
syirik kecil, yaitu ar-riya’. Allah akan mengatakan pada hari penghakiman
ketika dia menghadiahi orang-orang untuk tindakan mereka: Pergi ke orang-orang
yang kamu lakukan riya ‘untuk di dunia, kemudian lihat apakah kamu menemukan
pahala dengan mereka.” (HR Ahmad)
Para
Ulama mengatakan:
لاَ يَقْبَلُ الْعَمَلَ إِلاَّ خَالِصًا
صَوَابًا
“Tidak akan diterima amalan seseorang
melainkan ia-nya Ikhlas dan benar sesuai syari’ah”.
Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan
seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya
tetapi tidak bermanfaat.”
Ikhlas merupakan komitmen tertinggi yang seharusnya
ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya
ö@è%
¨bÎ)
ÎAx|¹
Å5Ý¡èSur
y$uøtxCur
ÎA$yJtBur
¬!
Éb>u
tûüÏHs>»yèø9$#
ÇÊÏËÈ
Katakanlah:
Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam. (QS Al-An’am
[6]: 162).
Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga.
1.
ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi
perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.
2.
ikhlash khawas,ialah
ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi
hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan
“sesuatu” dari-Nya.
3.
ikhlash khawas al-khawas
adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan
keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan
hanya Dia-lah Tuhan yang Mahasegala-galanya.
Berikut
ini beberapa ciri dari seorang Muslim yang tulus.
1. Tiada mengharap balasan kecuali dari Allah SWT
2.Menyempurnakan ibadahnya meskipun
dalam keadaan sendiri
Rasulullah
SAW pernah ditanya oleh Malaikat Jibril terkait arti ihsan. Rasulullah SAW menjawab,
“Ihsan itu adalah kalian menyembah kepada Allah seakanakan kalian melihat-Nya.
Kalaupun kalian tidak bisa mlihat-Nya, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha
Melihat (apa yang kalian kerjakan).”
3. Tidak terpengaruh
oleh pujian atau cercaan
Karena
hubungannya kuat dengan Allah, dia takut dipuji, jangan sampai membuat Allah
tidak senang atau jangan sampai dia menjadi sombong.
Suatu ketika Luqman menunggangi keledai
memasuki pasar. Sementara anaknya berjalan mengikuti dari belakang. Orang-orang
di pasar memperhatikan mereka.
Ada
yang mengecam Luqman, karena membiarkan anaknya berjalan kaki. Mendengar
omongan itu, Luqman turun dan menaikkan anaknya ke atas keledai. Ternyata masih
ada orang yang tidak suka melihat hal tersebut.
Mereka
berkata, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki
himar itu, sungguh kurang ajar anak itu."
Luqman
kemudian ikut menunggangi keledai bersama anaknya. Masih ada juga orang-orang
yang menggunjingkannya.
Mereka
mengasihani keledai karena harus menahan beban yang berat. Luqman mendengar
omongan itu. Kali ini si bijak dan anak nya turun dan berjalan kaki. Apa kah
orang-orang sudah berhenti meng gunjingkan mereka? Belum. Ternyata masih ada
saja yang membicarakan hal tak berguna.
Dia
menasihati anaknya agar tidak selamanya mendengar omongan orang, karena belum
tentu benar. Siapa pun harus meminta pertimbangan Allah, karena Sang Pencipta
adalah Mahapemberi hidayah.
4.Mendengarkan Nasihat
Orang-orang
yang ikhlas tidak pernah mengabaikan nasihat, tidak peduli siapa yang
memberikan nasihat. Orang yang ikhlas akan mengambil setiap kesempatan untuk
belajar memperbaiki diri.
5.Tidak berambisi menjadi pemimpin
6.Dia Selalu Mengingat
Kelemahan-kelemahannya
Orang
yang tulus selalu sibuk memikirkan bagaimana memperbaiki diri dan berhenti
melakukan dosa. Dia selalu melihat kebaikan dalam diri orang lain dan selalu
memberikan nasihat yang baik. Bahkan, dia selalu menganggap orang lain lebih
baik daripada dirinya.
“Jika
seseorang bijak, perhatiannya atas dosa-dosanya sendiri akan mengalihkan
perhatiannya dari melihat kesalahan orang lain” (Imam Syafi’i)
7.Dia Lebih suka Memberikan Amal
Secara Rahasia
Dalam
sebuah riwayat disebutkan: “Tujuh orang-orang yang akan mendapatkan
perlindungan Allah di hari kiamat ketika tidak akan ada lagi naungan
selain naungan-Nya: Seorang penguasa yang adil, seorang pemuda yang rajin
beibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya melekat pada masjid, dua orang
yang mencintai dan saling bertemu dan berangkat satu sama lain demi Allah, seorang
pria yang digoda wanita cantik (untuk hubungan terlarang) tetapi dia (menolak
tawaran ini dengan mengatakan): “Aku takut kepada Allah,” seseorang yang
memberi sedekah dan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa
yang telah diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang beribadah Allah
sendirian hingga meneteskan air mata.” (HR. Bukhari,
no. 1423 dan Muslim, no. 1031)
Bahkan
Orang yang telah mencapai derajat keikhlasan yang tinggi, iblis tak mampu
meggodanya, apalagi sampai menyesatkanya, hal ini seperti keterangan dalam
Surat Al Hijr 39-40 yang berbunyi:
tA$s% Éb>u !$oÿÏ3 ÏZoK÷uqøîr& £`uZÎiy_{ öNßgs9 Îû ÇÚöF{$# öNåk¨]tÈqøî_{ur tûüÏèuHødr& ÇÌÒÈ wÎ) y$t6Ïã ãNåk÷]ÏB úüÅÁn=øÜßJø9$# ÇÍÉÈ
39. iblis
berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat,
pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka
bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,
40.
kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis[799] di antara mereka".



