وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya
sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman betakwalah kalian kepada Allah dengan
sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan jangan kalian mati kecuali dalam keadaan
Islam” (Ali Imron: 102).
وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ
وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٲتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ
Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (Q.S.
Ali Imran: 133)
..إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ ..
“..
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling taqwa di antara kamu. ..” (QS. Al Hujurat: 13) . Seperti Bilal bin
rabah yg hanya budak tp mulia disisi Allah SWT
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang
yang bertaqwa.” [QS. At-Taubah:4]
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya
Dia akan mengadakan jalan
keluar baginya dan memberinya
rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” [At-Thalaq/65 : 2-3]
Banyak keuntungan menjadi orang yang bertaqwa!
Apa yang harus di lakukan agar menjadi
orang yang bertaqwa?
1.perbaiki hati
اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ
“Takwa itu
disini –beliau memberi isyarat ke dadanya
tiga kali (HR. Muslim no.2564 dalam
Kitabul Birri wash Shilah). Maksudnya di dalam hati.
Ibnu ‘Utsaimin
-rahimahullah- mengatakan: “Taqwa kepada Allah ta’ala itu letaknya di hati,
jika hatinya bertaqwa maka anggota badannya juga.”
Dari
An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu
‘anhuma, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ
صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ
وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah
bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh
jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah
hati (jantung).”(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ
وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak
melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat
pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).
Bersihkan hati dari Penyakit
hati
1. Riya (Pamer): Melakukan ibadah
atau kebaikan dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh orang lain, bukan
karena Allah SWT.
2. Hasad (Iri Dengki): Merasa tidak
senang dengan keberhasilan atau kebahagiaan orang lain, hingga ingin
kebahagiaan tersebut hilang.
3. Takabur (Sombong): Merasa diri lebih
baik, lebih berkuasa, atau lebih pandai dari orang lain.
4. Ujub (Bangga Diri): Terlalu
membanggakan diri sendiri dan perbuatan baik yang telah dilakukan.
5. Bakhil (Kikir): Tidak suka
memberikan, bahkan sedikit, kepada orang lain.
6. Ghadab (Marah): Terlalu mudah
marah dan sulit mengendalikan amarah.
7. Ghibah (Bergunjing): Membicarakan aib
atau kejelekan orang lain di belakangnya.
8. Fitnah: Menyebarkan berita
bohong atau menjelekkan orang lain.
9. Cinta dunia (Hubbud
dunya): Terlalu
mencintai dunia dan harta benda, sehingga mengabaikan kehidupan akhirat.
10.
Tamak (Rakus): Terlalu ingin memiliki banyak harta benda, tanpa
puas.
11.
Ananiah (Egois): Mementingkan diri sendiri, tanpa peduli dengan kepentingan
orang lain.
2.Selalu merasa diawasi Allah SWT
(muraqabah)
وَكَانَ
ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ رَّقِيبًا…
…Dan adalah Allah
Maha Mengawasi segala sesuatu. (Q.S.Al-Ahzab Ayat 52)
Alkisah, ada tiga santri masing-masing diberi seekor
ayam oleh kiainya dan disuruh untuk disembelih di sebuah tempat yang tidak
diketahui siapapun.
Santri pertama menyembelih ayam di Gua, santri kedua
di hutan, santri ketiga tidak menyembelih ayam tersebut karena tidak ada tempat
yang tidak diketahui Allah SWT
Bisakah kita maksiat yang dimana Allah tidak
melihat?ditempat yang bukan ciptaan Allah SWT?tentu tidak akan bisa !
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
ۚوَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan
Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4)
3.
Melakukan Muhasabah/Intropeksi diri
Yaitu mencari
kesalahan/kekurangan yang ada pada diri sendiri, kemudian memperbaikinya
Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala
Anhu berkata :
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها
قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian
dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang,
dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal”
Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Shifatul Qiyamah,
disebutkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Zuhud-nya. Dan Ibnul Qayyim dalam
Madarijus Salikin 1/319
Fokusnya kesalahan/kekurangan diri sendiri bukan malah
orang lain (Kisah Luqmaulhakim naik
keledai bersama anaknya)
Bagaimana
Cara Muhasabah?
§ Mengoreksi diri dalam
hal wajib, apakah punya kekurangan ataukah tidak.
Sholat,zakat,puasa,dll
§ Mengoreksi diri dalam
hal yang haram, apakah masih dilakukan ataukah tidak.
§ Mengoreksi diri atas
kelalaian yang telah dilakukan. Sibuk
mencari dunia, ibadah hanya sisa
§ Mengoreksi diri dengan
apa yang dilakukan oleh anggota badan ( lisan,
mata, telinga, tangan, kaki)
§ Mengoreksi diri dalam
niat, yaitu bagaimana niat kita dalam beramal,
Apakah Ikhlas karena Allah atau tidak
Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa
keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir.
Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.”
Diakhirat kelak tidak mendapatkan apa apa, karena tidak
menjadi pahala
4.
Lawan Hawa Nafsu
manusia terbagi menjadi 2 kelompok:
1. Manusia
yang dikalahkan dan dikuasai oleh hawa nafsunya
2.
manusia yang berasil memenangkan pertarungan melawan
nafsunya
$¨Br'sù `tB 4ÓxösÛ ÇÌÐÈ trO#uäur no4quptø:$# $u÷R9$# ÇÌÑÈ ¨bÎ*sù tLìÅspgø:$# }Ïd 3urù'yJø9$# ÇÌÒÈ $¨Br&ur ô`tB t$%s{ tP$s)tB ¾ÏmÎn/u ygtRur }§øÿ¨Z9$# Ç`tã 3uqolù;$# ÇÍÉÈ ¨bÎ*sù sp¨Ypgø:$# }Ïd 3urù'yJø9$# ÇÍÊÈ
37.
Adapun orang yang melampaui batas, 38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,
39. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). 40. dan Adapun orang-orang
yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa
nafsunya, 41. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS.
An-Nazi’at: 37-41)
5.Ingat Mati
Kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi dan akan
dihadapi semua makhluk hidup di dunia.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَتُ المَوْت….
“Setiap yang bernyawa
pasti akan mati” (QS. Al-Ankabut: 57)
Èe@ä3Ï9ur >p¨Bé& ×@y_r& ( #sÎ*sù uä!%y` öNßgè=y_r& w tbrãÅzù'tGó¡o Zptã$y ( wur cqãBÏø)tGó¡o ÇÌÍÈ
tiap-tiap umat
mempunyai batas waktu; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al A’raf: 34).
$yJoY÷r& (#qçRqä3s? ãN3.Íôã ÝVöqyJø9$# öqs9ur ÷LäêZä. Îû 8lrãç/ ;oy§t±B 3 .... ÇÐÑÈ
Di mana saja kamu
berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang
Tinggi lagi kokoh,(Qs An-Nisa’ : 78)
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ
اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ
“Perbanyaklah
mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai
dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
Yang di rahasiakan
dari kematian:waktu,tempat, dan cara kematian menghampiri apakah husnul atau
su’ul khotimah
Imam
Syafi’i: Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu dan kematian dipelupuk
matamu
ingat
Dunia sementara akhirat selamanya
Itulah yang bisa kita
lakukan agar menjadi pribadi yang Bertaqwa:
1.perbaiki hati
2.
Selalu merasa diawasi Allah SWT (muraqabah)
3.
Melakukan
Muhasabah/Intropeksi diri
4.
Lawan Hawa Nafsu
4. Ingat Mati



