Selasa, 20 Mei 2025

Menggapai Derajat Taqwa

 وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman betakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan jangan kalian mati kecuali dalam keadaan Islam(Ali Imron: 102).

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٲتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (Q.S. Ali Imran: 133)

..إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ..

“.. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. ..” (QS. Al Hujurat: 13) . Seperti Bilal bin rabah yg hanya budak tp mulia disisi Allah SWT

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang bertaqwa.” [QS. At-Taubah:4]

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

 “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” [At-Thalaq/65 : 2-3]

Banyak keuntungan menjadi orang yang bertaqwa!

Apa yang harus di lakukan agar menjadi orang yang bertaqwa?

 

1.perbaiki hati

 Rasulullah SAW bersabda,

اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Takwa itu disini beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali (HR. Muslim no.2564 dalam Kitabul Birri wash Shilah). Maksudnya di dalam hati.

 

Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- mengatakan: “Taqwa kepada Allah ta’ala itu letaknya di hati, jika hatinya bertaqwa maka anggota badannya juga.”

 

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

 Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

 

Bersihkan hati dari Penyakit hati

 

1.    Riya (Pamer): Melakukan ibadah atau kebaikan dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh orang lain, bukan karena Allah SWT.

2.    Hasad (Iri Dengki): Merasa tidak senang dengan keberhasilan atau kebahagiaan orang lain, hingga ingin kebahagiaan tersebut hilang. 

3.    Takabur (Sombong): Merasa diri lebih baik, lebih berkuasa, atau lebih pandai dari orang lain. 

4.    Ujub (Bangga Diri): Terlalu membanggakan diri sendiri dan perbuatan baik yang telah dilakukan. 

5.    Bakhil (Kikir): Tidak suka memberikan, bahkan sedikit, kepada orang lain. 

6.    Ghadab (Marah): Terlalu mudah marah dan sulit mengendalikan amarah. 

7.    Ghibah (Bergunjing): Membicarakan aib atau kejelekan orang lain di belakangnya. 

8.    Fitnah: Menyebarkan berita bohong atau menjelekkan orang lain. 

9.    Cinta dunia (Hubbud dunya): Terlalu mencintai dunia dan harta benda, sehingga mengabaikan kehidupan akhirat. 

10.   Tamak (Rakus): Terlalu ingin memiliki banyak harta benda, tanpa puas. 

11.   Ananiah (Egois): Mementingkan diri sendiri, tanpa peduli dengan kepentingan orang lain. 

 

2.Selalu merasa diawasi Allah SWT (muraqabah)

وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ رَّقِيبًا

…Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. (Q.S.Al-Ahzab Ayat 52)

 

Alkisah, ada tiga santri masing-masing diberi seekor ayam oleh kiainya dan disuruh untuk disembelih di sebuah tempat yang tidak diketahui siapapun.

 

Santri pertama menyembelih ayam di Gua, santri kedua di hutan, santri ketiga tidak menyembelih ayam tersebut karena tidak ada tempat yang tidak diketahui Allah SWT

 

Bisakah kita maksiat yang dimana Allah tidak melihat?ditempat yang bukan ciptaan Allah SWT?tentu tidak akan bisa !

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚوَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4)

 

 

3.    Melakukan Muhasabah/Intropeksi diri

 

Yaitu mencari kesalahan/kekurangan yang ada pada diri sendiri, kemudian memperbaikinya

 

Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata :

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal

Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Shifatul Qiyamah, disebutkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Zuhud-nya. Dan Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin 1/319

Fokusnya kesalahan/kekurangan diri sendiri bukan malah orang lain (Kisah Luqmaulhakim naik keledai bersama anaknya)

 

Bagaimana Cara Muhasabah?

§  Mengoreksi diri dalam hal wajib, apakah punya kekurangan ataukah tidak. Sholat,zakat,puasa,dll

§  Mengoreksi diri dalam hal yang haram, apakah masih dilakukan ataukah tidak.

§  Mengoreksi diri atas kelalaian yang telah dilakukan. Sibuk mencari dunia, ibadah hanya sisa

§  Mengoreksi diri dengan apa yang dilakukan oleh anggota badan ( lisan, mata, telinga, tangan, kaki)

§  Mengoreksi diri dalam niat, yaitu bagaimana niat kita dalam beramal, Apakah Ikhlas karena Allah atau tidak

Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.”

 

Diakhirat kelak tidak mendapatkan apa apa, karena tidak menjadi pahala

 

 

 

4.    Lawan Hawa Nafsu

 

manusia terbagi menjadi 2 kelompok:

 

1.    Manusia yang dikalahkan dan dikuasai oleh hawa nafsunya

2.    manusia yang berasil memenangkan pertarungan melawan nafsunya

$¨Br'sù `tB 4ÓxösÛ ÇÌÐÈ   trO#uäur no4quŠptø:$# $u÷R9$# ÇÌÑÈ   ¨bÎ*sù tLìÅspgø:$# }Ïd 3urù'yJø9$# ÇÌÒÈ   $¨Br&ur ô`tB t$%s{ tP$s)tB ¾ÏmÎn/u ygtRur }§øÿ¨Z9$# Ç`tã 3uqolù;$# ÇÍÉÈ   ¨bÎ*sù sp¨Ypgø:$# }Ïd 3urù'yJø9$# ÇÍÊÈ  

37. Adapun orang yang melampaui batas, 38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, 39. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). 40. dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, 41. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi’at: 37-41)

 

5.Ingat Mati

Kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi dan akan dihadapi semua makhluk hidup di dunia.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَتُ المَوْت….

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati” (QS. Al-Ankabut: 57)

Èe@ä3Ï9ur >p¨Bé& ×@y_r& ( #sŒÎ*sù uä!%y` öNßgè=y_r& Ÿw tbrãÅzù'tGó¡o Zptã$y ( Ÿwur šcqãBÏø)tGó¡o ÇÌÍÈ  

tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al A’raf: 34).

$yJoY÷ƒr& (#qçRqä3s? ãNœ3.ÍôムÝVöqyJø9$# öqs9ur ÷LäêZä. Îû 8lrãç/ ;oy§t±B 3 .... ÇÐÑÈ  

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh,(Qs An-Nisa’ : 78)

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasaai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

 

Yang di rahasiakan dari kematian:waktu,tempat, dan cara kematian menghampiri apakah husnul atau su’ul khotimah

 

Imam Syafi’i: Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu dan kematian dipelupuk matamu

 

ingat Dunia sementara akhirat selamanya

 

              Itulah yang bisa kita lakukan agar menjadi pribadi yang Bertaqwa:

1.perbaiki hati

2.    Selalu merasa diawasi Allah SWT (muraqabah)

3.    Melakukan Muhasabah/Intropeksi diri

4.    Lawan Hawa Nafsu

4.  Ingat Mati